Perekonomian Indonesia menunjukkan perbaikan yang gradual, terutama dengan meningkatnya optimisme yang tercermin dari PMI yang bersifat ekspansif di level 53,3 (sebelumnya: 51,2) dan latar belakang inflasi yang moderat sebesar 2,7% YoY. Neraca perdagangan dan cadangan devisa tetap solid dengan surplus perdagangan sebesar USD 2,4 miliar dan pemulihan cadangan devisa ke sekitar USD 150 miliar.
Bank Indonesia memutuskan untuk menahan BI Rate di level 4,75% sejalan dengan fokus untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Keputusan ini diambil di tengah pemulihan pasar kredit yang masih berlangsung, dengan pertumbuhan kredit sebesar 7,74% pada November 2025, yang masih berada di bawah target pertumbuhan kredit Bank Indonesia sebesar 10%. Namun, Bank Indonesia tetap mempertahankan sikap yang pro-pertumbuhan dengan kebijakan
moneter yang pro-pasar melalui berbagai insentif untuk meningkatkan likuiditas sistem, seperti insentif bagi perbankan untuk menyalurkan kredit dan pelonggaran kebijakan giro wajib minimum.
Realisasi fiskal terus menunjukkan perbaikan dengan pelebaran defisit fiskal berjalan (YTD) menjadi 2,4% terhadap PDB (vs 1,8% tahun lalu). Perkembangan ini didorong oleh belanja pemerintah yang cenderung backloaded pada 4Q25 untuk program-program prioritas dan belanja sosial yang dipercepat melalui upaya debottlenecking oleh Kementerian Keuangan. Belanja fiskal tersebut diperkirakan akan mendorong pertumbuhan, khususnya dari program prioritas dan rencana penyaluran bantuan tunai pada akhir 2025.
Berbagai langkah pro-pertumbuhan yang ditempuh baik dari sisi fiskal maupun moneter menunjukkan efektivitasnya. Indikator frekuensi tinggi seperti pertumbuhan M2, PMI, dan penjualan ritel mengindikasikan pemulihan yang solid pada 4Q25, dan momentum ini diperkirakan akan berlanjut hingga 1H26. Eksekusi fiskal akan menjadi penopang utama PDB dengan percepatan yang diharapkan terjadi pada 1H26. Harga komoditas yang tetap mendukung, perjanjian EU-CEPA, serta penertiban aktivitas pertambangan ilegal diperkirakan akan menurunkan defisit transaksi berjalan dan meningkatkan kontribusi ekspor terhadap PDB, yang pada gilirannya akan memicu apresiasi IDR. Secara keseluruhan, faktor-faktor tersebut berpotensi mendorong aliran dana rotasional masuk ke Indonesia karena pasar domestik masih menarik dari sisi valuasi.
Rekomendasi Produk
| REKSA DANA SAHAM | |
|---|---|
| MITRA A | Reksa Dana Mandiri Investa Atraktif berinvestasi pada saham domestik mayoritas saham Big Cap. Dengan segmen Jangka Panjang, dan dikategorikan berisiko tinggi. Investor memiliki risiko atas portofolio saham tersebut. |
| MICB A | Reksa Dana Mandiri Investa Cerdas Bangsa berinvestasi mayoritas pada saham yang termasuk dalam indeks LQ45. Dengan segmen Jangka Panjang, dan dikategorikan berisiko tinggi. Investor memiliki risiko atas portofolio saham tersebut. |
| REKSA DANA CAMPURAN | |
| MIA | Reksa Dana Mandiri Investa Aktif berinvestasi pada Efek Saham, Obligasi dan Pasar Uang. Dengan segmen Jangka Menengah dan dikategorikan berisiko Menengah. Investor memiliki risiko atas Portofolio Campuran tersebut. |
| MISB | Reksa Dana Mandiri Investa Syariah Berimbang berinvestasi pada efek Saham syariah, Sukuk dan Pasar Uang syariah. Dengan segmen Jangka Menengah dan dikategorikan berisiko Menengah. Investor memiliki risiko atas Portofolio Campuran tersebut. |
| REKSA DANA SAHAM INDEKS DAN ETF | |
| FTSE ESG A | Reksa Dana Indeks FTSEESG berinvestasi mayoritas pada saham yang terdapat di dalam Indeks FTSE Indonesia ESG. Dengan segmen Jangka Panjang, dan dikategorikan berisiko tinggi. Investor memiliki risiko atas portofolio saham tersebut. |
| XMLF | Reksa Dana ETF Mandiri ETF LQ45 berinvestasi pada saham-saham blue chip yang terdapat di dalam Indeks LQ45. Dengan segmen Jangka Panjang, dan dikategorikan berisiko tinggi. Investor memiliki risiko atas portofolio saham tersebut. |
Info Lebih Lanjut
Hubungi Mandiri Investasi – (021) 526 3505
Email Mandiri Investasi – [email protected]
Mandiri Investasi – www.mandiri-investasi.co.id
DISCLAIMER
Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.
Written by




Tinggalkan Balasan