Pada Desember 2025, bulan tersebut didominasi oleh volatilitas terkait keputusan The Fed yang akan diumumkan pada pertengahan Desember. Berlawanan dengan ekspektasi pasar, peluang pemangkasan suku bunga pada Desember menjadi kurang jelas akibat pernyataan berhati-hati dari Ketua The Fed, Jerome Powell. Namun, sentimen ini berbalik setelah data menunjukkan pelemahan ekonomi. Data ADP menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS kehilangan 32 ribu pekerjaan pada November, sementara PMI melemah ke level 48,2. Inflasi tetap relatif jinak dengan inflasi PCE tercatat 2,8% YoY pada November. Hal ini mendorong The Fed memangkas suku bunganya sebesar 25 bps ke kisaran 3,5%–3,75%. Selain itu, The Fed juga merilis proyeksi untuk 2026 dengan hanya satu kali pemangkasan suku bunga yang diantisipasi.
Pertumbuhan AS tetap tangguh, dengan negara tersebut membukukan pertumbuhan PDB 3Q25 sebesar 4,3% YoY yang melampaui ekspektasi, didorong oleh percepatan belanja konsumen pada layanan kesehatan dan layanan komputasi. Sepanjang 2025, investasi AI terus meningkat dengan estimasi terbaru bahwa investasi berkelanjutan ke dalam ekosistem AI berkontribusi sekitar 1,1% terhadap pertumbuhan PDB AS pada 1H25.
Di kawasan lain, terlihat adanya divergensi kebijakan. Bank of Japan memutuskan untuk menaikkan suku bunganya menjadi 0,75%, level tertinggi sejak 1995, seiring inflasi yang berada jauh di atas target 2% BoJ dan pelemahan JPY yang meluas. European Central Bank mempertahankan suku bunga kebijakannya, dengan alasan inflasi dan trajektori pertumbuhan yang masih dapat dikelola. Bank of England bergerak sejalan dengan The Fed dengan memangkas suku bunganya ke 3,75%, menandai perbedaan arah siklus ekonomi global.
Ke depan, masih terlihat ruang untuk kelanjutan pelonggaran di AS didukung oleh profil pertumbuhan dan inflasi yang masih sehat. Keyakinannya adalah bahwa siklus global sedang bergerak menuju puncak siklus goldilocks pada 2026, dengan kombinasi pertumbuhan dan inflasi yang sehat sehingga memungkinkan kebijakan fiskal dan moneter yang lebih akomodatif. Pada akhirnya, hal ini akan menciptakan lingkungan likuiditas yang berlimpah yang akan berdampak positif bagi pasar keuangan.
Rekomendasi Produk
| REKSA DANA SAHAM | |
|---|---|
| MGSED A | Reksa Dana MGSED berinvestasi pada Efek Ekuitas Syariah Luar Negeri di dalam Daftar Efek Syariah. Dengan segmen Jangka Panjang, dan dikategorikan berisiko tinggi. Investor memiliki risiko atas portofolio saham tersebut. |
| MASED A | Reksa Dana MASED berinvestasi pada Efek Ekuitas Syariah Asia di dalam Daftar Efek Syariah. Dengan segmen Jangka Panjang, dan dikategorikan berisiko tinggi. Investor memiliki risiko atas portofolio saham tersebut. |
Info Lebih Lanjut
Hubungi Mandiri Investasi – (021) 526 3505
Email Mandiri Investasi – [email protected]
Mandiri Investasi – www.mandiri-investasi.co.id
DISCLAIMER
Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.
Written by




Tinggalkan Balasan