BI tahan suku bunga di November 2024. Produk pasar uang dan obligasi korporasi menarik dengan imbal hasil tinggi jelang akhir tahun.
Desember 3, 2024
Money Market Commentary : November 2024
Desember 3, 2024
BI tahan suku bunga di November 2024. Produk pasar uang dan obligasi korporasi menarik dengan imbal hasil tinggi jelang akhir tahun.
Desember 3, 2024
Pemilu AS dan kenaikan imbal hasil Treasury picu koreksi obligasi global. IndoGB tetap menarik, didukung stabilitas Rupiah dan SRBI.
Desember 3, 2024
Trump terpilih kembali, dorong pasar AS. Rupiah melemah 5% ke Rp15.900, saham domestik turun, namun peluang pemulihan tetap terbuka.
Desember 3, 2024
Kemenangan Republik di Pemilu AS dorong pasar positif, dengan deregulasi, pemotongan pajak perusahaan, dan buyback saham.
Desember 2, 2024
Trump berencana potong pajak, naikkan tarif, picu inflasi AS di atas 2% pada 2025. Ekonomi AS tumbuh lebih cepat dari Eropa.
November 25, 2024
Indonesia mencatat BoP surplus USD 5,9 miliar di 3Q24, defisit current account turun, dan surplus financial account meningkat.
November 21, 2024
Investor fokus pada Pemilu AS dan pemerintahan baru Indonesia. Optimisme pasar tumbuh berkat kesinambungan kebijakan ekonomi.
November 18, 2024
Dampak pemilu AS terasa, DXY melampaui 105. Tarif AS naik, peluang ekspor Indonesia ke AS dan China tetap terjaga berkat stimulus.
November 12, 2024
Trump terpilih kembali, pasar EM dan Indonesia tertekan. IHSG dan Rupiah terkoreksi mirip 2016, S&P menguat, Fed turunkan suku bunga.
November 4, 2024
The Fed dan BI turunkan suku bunga, yield obligasi turun. Pertumbuhan kredit baik, tapi suku bunga deposito mungkin tak berubah.
November 4, 2024
Yield obligasi Indonesia terkoreksi pada Oktober 2024 akibat faktor global, termasuk pemilu AS dan ketegangan Timur Tengah.
November 4, 2024
Optimisme domestik meningkat pada Oktober 2024 dengan transisi pemerintahan yang lancar. Investor tetap waspada terhadap pengaruh global.
November 4, 2024
Pemilu AS, stimulus China, dan ketegangan geopolitik memengaruhi pasar global Oktober 2024. Investor fokus pada peluang di AS dan China.
November 4, 2024
Pasar obligasi turun 0,99% di Oktober 2024 akibat kenaikan yield US Treasury. Soft landing AS masih mendukung pemotongan suku bunga.
Oktober 30, 2024
Kebijakan moneter global kini lebih longgar, inflasi terkendali. Pasar saham dan obligasi mencapai rekor, Rupiah menguat, ekonomi positif.
Oktober 28, 2024
IMF revisi pertumbuhan global ke 3,2% karena proteksionisme AS. Ekonomi AS diproyeksi kuat, sementara China dan Eropa menurun di 2025.
Oktober 23, 2024
Investor menyambut penurunan suku bunga The Fed dan BI. Pasar saham dan obligasi mencatat rekor tertinggi, optimisme berlanjut hingga Q4.
Oktober 21, 2024
Neraca dagang September 2024 surplus USD 3,3 miliar, BI tahan suku bunga di 6,00%. Likuiditas sektor keuangan masih tinggi.
Oktober 14, 2024
Inflasi AS turun ke 2,4% di September, tren soft landing berlanjut. The Fed diperkirakan hanya akan memotong 25 bps di November.
Oktober 7, 2024
The Fed dan BI turunkan suku bunga, yield obligasi turun. Pertumbuhan kredit baik, tapi suku bunga deposito mungkin tak berubah.