Pada Desember 2025, pergerakan pasar global dan domestik dipengaruhi pemangkasan FFR 25 bps di tengah data ketenagakerjaan AS yang melemah, divergensi kebijakan BoJ–ECB–BoE, serta perbaikan fundamental makroekonomi di Indonesia. Di dalam negeri, PMI manufaktur meningkat ke wilayah ekspansif, inflasi tetap stabil, neraca perdagangan surplus, dan cadangan devisa meningkat. Sementara itu, BI mempertahankan suku bunga sebesar 4,75% untuk menjaga stabilitas rupiah dengan tetap memperkuat transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial.
Overview
Pada Desember 2025, pergerakan pasar global dan domestik dipengaruhi oleh kombinasi pelonggaran moneter The Fed, divergensi kebijakan bank sentral beberapa negara, serta perbaikan data fundamental makro dan pasar keuangan Indonesia, baik di ekuitas, obligasi maupun pasar uang.
The Fed memangkas Fed Funds Rate sebesar 25 bps ke kisaran 3,50%–3,75%, di tengah data tenaga kerja menunjukkan perlambatan sementara inflasi masih di atas target The Fed pada kisaran 2%. Disisi lain, perekonomian AS pada kuartal III 2025 tumbuh sebesar 4,3% yoy melampaui pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2025 sebesar 3,8% yoy. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh meningkatnya belanja konsumen dan ekspor, berlanjutnya penguatan investasi terkait kecerdasan buatan (AI), dan pulihnya belanja pemerintah. Pertumbuhan ekonomi yang solid tersebut menyebabkan perbedaan pandangan dari anggota FOMC mengenai arah pertumbuhan ekonomi AS di tahun 2026. Di wilayah lain, kami juga melihat adanya divergensi arah pertumbuhan ekonomi global terutama di Jepang, China, dan Eropa, yang tercermin dari perbedaan kebijakan moneter bank sentral di wilayah masing-masing. PBOC dan BoE memangkas suku bunga acuannya, sementara itu, BoJ menaikkan suku bunga ke 0,75% (level tertinggi sejak 1995) akibat inflasi yang masih di atas target 2% dan pelemahan JPY, sedangkan ECB menahan suku bunga acuannya dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi yang lebih optimis.
Aktivitas perekonomian Indonesia menunjukkan perbaikan yang tercermin dari indikator Indeks PMI manufaktur yang tetap berada di area ekspansif pada level 51,2 di bulan Desember 2025. Aktivitas konsumsi juga menunjukkan penguatan, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen yang tetap terjaga pada level optimis 123,5 dan Indeks Penjualan Riil yang diperkirakan tumbuh 4,4% yoy. Di sisi harga, stabilitas inflasi tetap terjaga dengan inflasi umum tercatat sebesar 2,9% dan inflasi inti sebesar 2,38% yoy pada Desember 2025. Namun demikian, tantangan masih terlihat pada penyaluran kredit perbankan yang hanya tumbuh 7,74% yoy di bulan November di bawah target BI di kisaran 8-11%. Kondisi ini mendorong BI untuk tetap mempertahankan kebijakan moneter yang longgar dan berorientasi pada pertumbuhan, melalui penguatan insentif penyaluran kredit serta pelonggaran Giro Wajib Minimum (GWM) untuk mendukung likuiditas sistem keuangan. Di sisi lain, tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat meningkatnya ketidakpastian global mendorong BI untuk menahan BI Rate di level 4,75% pada RDG Desember 2025. Sementara itu, kinerja eksternal tetap solid, tercermin dari surplus neraca perdagangan 11M25 sebesar USD38,54 miliar, turut mendorong peningkatan cadangan devisa menjadi USD156,5 miliar, sehingga dapat memberikan bantalan yang memadai bagi stabilitas nilai tukar rupiah.
Topic of discussion
- Inflasi
- PMI Manufacturing dan Indeks Keyakinan Konsumen
- Data moneter
- Penjualan mobil dan motor
- Analisa kondisi makro ekonomi dan kondisi pasar modal
- Rekomendasi aset alokasi
Rekomendasi
Di periode ini, dengan view pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, kebijakan suku bunga yang longgar, walaupun di tengah meningkatnya volatilitas global, kami merekomendasikan alokasi asset sebesar 10% kas—turun dari rekomendasi bulan sebelumnya, sedangkan saham dan obligasi naik masing-masing menjadi 45%. Dari pilihan produk MMI sendiri, reksa dana saham yang dapat dipilih termasuk RD MITRA dan MISB, dengan MITRA sendiri lebih cocok untuk investor agresif karena komposisi yang mayoritas saham, dan MISB untuk investor yang lebih konservatif karena porsi obligasi yang berperan sebagai stabiliser. Siklus pemangkasan suku bunga juga berpengaruh positif pada pasar obligsasi. Kami merekomendasikan MIDU dengan strategi short-duration dan porsi obligasi korporasi untuk mengunci yield dan dividen untuk antisipasi tren penurunan suku bunga. Kami juga merekomendasikan MIDO 2 untuk memperoleh capital gain melalui strategi durasi fleksibel. Untuk likuiditas jangka pendek kami merekomendasikan produk pasar uang berupa RD MIPU dan RD MMUSD yang memiliki return di atas deposito dan inflasi.

Rekomendasi Produk
Saham
- Mandiri Investa Cerdas Bangsa (MICB) – Kelas A
Saham LQ45, Mayoritas saham kapitalisasi besar, dan Denominasi Rupiah - Mandiri Investa Equity Asean 5 Plus (MANSEA5)
Saham domestik & global, All cap fund, dan Denominasi Rupiah
Saham Global
- Mandiri Global Sharia Equity Dollar (MGSED) – Kelas A
Saham global, Denominasi USD, dan Kerjasama dengan JP Morgan AM - Mandiri Asia Sharia Equity Dollar (MASED) – Kelas A
Saham Asia dan Denominasi USD
Index
- Mandiri Indeks FTSE Indonesia ESG (FTSEESG) – Kelas A
Saham domestik, Denominasi Rupiah, Berorientasi ESG, dan Pengelolaan pasif - Mandiri ETF LQ45 (XMLF)
Tracking error rendah, Transaksi jual/beli dapat di lakukan setiap saat, dan Nilai transaksi real time
Pendapatan Tetap
- Mandiri Investa Dana Utama (MIDU)
Obligasi pemerintah & korporasi, Pembagian dividen bulanan, dan Durasi: pendek (< 4 tahun) - Investa Dana Dollar Mandiri (IDAMAN)
Obligasi pemerintah USD (INDON), Durasi menengah – panjang, dan Denominasi USD
Campuran
- Mandiri Investa Syariah Berimbang (MISB)
Obligasi Syariah (Sukuk), Durasi pendek – menengah
Pasar Uang
- Mandiri Investa Pasar Uang (MIPU)
Instrumen Pasar Uang dengan segmen Jangka Pendek - Mandiri Money Market USD (MMUSD)
Instrumen Pasar Uang dan Denominasi USD
| PRODUK | 3M PERFORMANCE | YTD PERFORMANCE |
|---|---|---|
| Saham | ||
| MICB A | +7.92% | +3.22% |
| ASEAN5 | +9.02% | +3.51% |
| Saham Global | ||
| MGSED A | +0.77% | +2.12% |
| MASED B | +2.77% | +3.91% |
| Indeks | ||
| FTSE ESG A | +2.51% | +0.51% |
| XMLF | +6.50% | +3.00% |
| Pendapatan Tetap | ||
| MIDU | –0.08% | -0.24% |
| IDAMAN | -1.05% | -0.89% |
| Campuran | ||
| MISB | +7.56% | +3.64% |
| Pasar Uang | ||
| MIPU | +1.00% | +0.20% |
| MMUSD | +0.67% | +0.15% |
*Data diatas adalah data per tanggal 21 Januari 2026
Untuk membaca hal-hal yang terjadi di bulan Desember 2025 yang mempengaruhi ekonomi secara makro selengkapnya disini:
Info Lebih Lanjut
Hubungi Mandiri Investasi – (021) 526 3505
Email Mandiri Investasi – [email protected]
Mandiri Investasi – www.mandiri-investasi.co.id
DISCLAIMER
Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.
Written by




Tinggalkan Balasan