Weekly Market Recap 18 – 21 Agustus 2026

  • icon-jam24 Agustus 2026
  • icon-share
    Shares

Weekly Market Recap 18 – 21 Agustus 2026

Ringkasan Pasar:

  • Global Equity: Pasar saham global melemah sepanjang pekan, dengan indeks MSCI World turun sebesar -1,19% WoW. Kenaikan imbal hasil jangka panjang meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek fiskal AS serta tingginya penerbitan surat utang pemerintah dan pembiayaan terkait AI. Tekanan pasar turut diperbesar oleh kembali meningkatnya ketegangan AS–Iran, kenaikan harga minyak, serta pelemahan saham semikonduktor dan AI.

  • Domestic Equity: IHSG menguat sebesar +1,93% WoW ke level 6.525,69, didukung oleh inflow investor asing sebesar Rp2,2 triliun sepanjang pekan. Kondisi ini berbalik dari net sell sebesar Rp1,58 triliun pada pekan sebelumnya.

  • Domestic Bond Market: Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia (IndoGB) tenor 10 tahun turun 23 bps WoW menjadi 6,95%, sementara tenor 2 tahun turun 18 bps menjadi 6,65%. Penguatan didukung oleh Rupiah yang terapresiasi ke level Rp17.694 per dolar AS serta berlanjutnya inflow investor asing sebesar Rp13,8 triliun WoW.

Berita Utama Pekan Ini:

  • US Treasury setidaknya menggandakan nilai program buyback untuk mendukung likuiditas pada tenor panjang, dari batas maksimum USD2 miliar menjadi sedikitnya USD4 miliar per transaksi, yang berlaku mulai 9 September hingga 4 November. Langkah tersebut dilakukan setelah imbal hasil UST tenor 30 tahun mencapai 5,33%.

  • Total utang AS untuk pertama kalinya melampaui USD40 triliun dan semakin mendekati batas utang yang ditetapkan sebesar USD41,1 triliun.

  • Harga emas naik ke level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan pada Jumat, mencapai USD4.600 per ons, dan menuju kenaikan mingguan ketiga berturut-turut seiring rencana dukungan likuiditas melalui buyback US Treasury menekan dolar AS.

  • Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75%, sesuai ekspektasi. BI juga mempertahankan perkiraan kenaikan suku bunga The Fed berikutnya pada kuartal IV 2026, dengan proyeksi inflasi global sebesar 4,5% dan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,0% pada 2026.

  • Utang luar negeri Indonesia mencapai USD453,4 miliar pada kuartal II 2026 atau tumbuh +4,4% YoY, setara dengan 30,6% PDB. Utang pemerintah tercatat sebesar USD216,3 miliar (+2,9% YoY), sementara utang swasta sebesar USD194,6 miliar (-0,6% YoY). Peningkatan terutama berasal dari utang sektor publik, termasuk meningkatnya kepemilikan SRBI oleh investor nonresiden. Struktur utang masih didominasi oleh tenor jangka panjang sebesar 82,1% dari total utang.

  • Neraca Pembayaran Indonesia mencatat defisit sebesar USD0,9 miliar pada kuartal II 2026, membaik dari defisit USD9,1 miliar pada kuartal I. Defisit transaksi berjalan melebar menjadi USD12,5 miliar atau -3,3% terhadap PDB, dari USD3,6 miliar atau -1,0% terhadap PDB pada kuartal sebelumnya. Sementara itu, transaksi modal dan finansial mencatat surplus sebesar USD12,0 miliar, berbalik dari defisit USD4,8 miliar pada kuartal I, didukung oleh aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio.

Pandangan Kami:

Kenaikan imbal hasil US Treasury menjadi perhatian pasar di tengah tingginya kebutuhan penerbitan utang fiskal dan perubahan ekspektasi arah suku bunga. Program buyback Treasury diperkirakan hanya memberikan dukungan likuiditas sementara dan belum mengatasi tekanan fundamental. Sementara itu, perhatian investor pada pekan depan akan tertuju pada simposium Jackson Hole untuk memperoleh sinyal mengenai arah kebijakan The Fed selanjutnya.

Pasar obligasi dan saham Indonesia relatif stabil, meskipun defisit transaksi berjalan serta perubahan kebijakan SRBI tetap menjadi variabel utama yang perlu diperhatikan. Untuk IndoGB, kondisi saat ini relatif mendukung. Stabilitas Rupiah yang membaik dan biaya lindung nilai valuta asing yang lebih rendah dapat mempermudah masuknya kembali investor asing, sementara berkurangnya pasokan SRBI berpotensi mengalihkan likuiditas perbankan domestik dan investor institusi ke SBN, yang keduanya dapat memberikan tekanan turun terhadap imbal hasil.

Di pasar saham, IHSG masih diperdagangkan pada valuasi yang relatif rendah dengan posisi investor asing yang masih terbatas, sehingga membuka ruang terjadinya mean reversion. Katalis yang mendorong investor kembali masuk, seperti stabilisasi Rupiah, keberlanjutan kebijakan Bank Indonesia, atau perbaikan transaksi berjalan, berpotensi mendukung arus dana dan kinerja indeks.

RD MISB, RD MMUSD, RD IDAMAN, RD MIDU, RD MIDSYA, RD MGSED, RD MASED, MICB, MITRA, MITRAS, RD FTSE, ETF LQ45, ETF SRI Kehati, ETF Mandiri Emas Syariah. 

Simak pembahasan mendalam seputar pergerakan pasar pekan ini dalam laporan lengkap Weekly Market RecapBaca Selengkapnya

 


 

PRODUK 3M PERFORMANCE YTD PERFORMANCE
JCI -4.78% -25.96%
LQ45 -3.89% -25.31%
Saham
MITRA A -3.70% -16.49%
MICB A -4.46% -16.07%
ASEAN5 -5.64% -18.71%
MGSED -2.00% +13.10%
Index
FTSE ESG A  -2.17% -17.86%
ETF
XMLF -2.63% -21.80%
Campuran
MISB -9.04% -9.51%
MIA -11.70% -11.45%
Pendapatan Tetap
MIDU A -0.79% -1.05% 
MIDO2 -2.37% -2.72%
IDAMAN A -3.00% -3.22%
Pasar Uang
MIPU A +1.73% +1.59%
MMUSD +1.68% +1.58%

*Data diatas adalah data per tanggal  14 Agustus 2026

 


Info Lebih Lanjut

Hubungi Mandiri Investasi – (021) 526 3505
‌Email Mandiri Investasi – [email protected]
‌Mandiri Investasi – mandiri-investasi.co.id
‌‌


DISCLAIMER

‌Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana

Written by

Ikhlas Ikhlas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *