Weekly Market Recap 31 Agustus – 4 September 2026

  • icon-jam07 September 2026
  • icon-share
    Shares

Weekly Market Recap 31 Agustus – 4 September 2026

Ringkasan Pasar:

  • Global Equity: Pasar saham global bergerak bervariasi sepanjang pekan. MSCI ASEAN mencatat kenaikan tertinggi sebesar +0,93%, sementara Nikkei menjadi indeks dengan kinerja terlemah, turun -2,09%.

  • Domestic Equity: IHSG menguat sebesar +1,82% sepanjang pekan dan kembali ke level 6.600, didukung oleh penguatan Rupiah serta inflow investor asing sebesar Rp2,3 triliun.

  • Domestic Bond Market: Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia (IndoGB) tenor 10 tahun dan 2 tahun masing-masing naik 12 bps WoW menjadi 7,12% dan 6,74%, sejalan dengan kenaikan sekitar 6 bps pada imbal hasil UST tenor 10 tahun.

Berita Utama Pekan Ini:

  • Imbal hasil UST meningkat sepanjang pekan, dengan tenor 10 tahun sempat mencapai 4,81%, level tertinggi dalam hampir tiga tahun, dipengaruhi oleh kembali meningkatnya ketegangan geopolitik dan kenaikan harga minyak. Imbal hasil kemudian menurun setelah Gubernur The Fed Christopher Waller menyatakan dukungannya untuk mempertahankan suku bunga pada FOMC September apabila data berikutnya terus menunjukkan tren disinflasi. Namun, imbal hasil kembali naik pada Jumat setelah nonfarm payrolls Agustus meningkat 162 ribu, jauh di atas konsensus 53 ribu. Tingkat pengangguran tetap di 4,1%, sementara tingkat partisipasi tenaga kerja naik menjadi 61,6%.

  • Harga minyak naik 7% WoW setelah serangan militer antara AS dan Iran kembali terjadi untuk pertama kalinya dalam beberapa pekan.

  • Nikkei melemah, terutama pada saham dengan valuasi tinggi, seiring kenaikan imbal hasil JGB dan meningkatnya ekspektasi pengetatan kebijakan BoJ dalam waktu dekat yang menekan sentimen pasar.

  • Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan sebesar USD121 juta pada Juli setelah mengalami defisit selama dua bulan berturut-turut, sehingga surplus kumulatif YTD mencapai USD3,7 miliar. Surplus tersebut didukung oleh moderasi impor seiring normalisasi harga minyak, melambatnya impor barang modal, serta meredanya gangguan rantai pasok, meskipun pertumbuhan impor masih tinggi sebesar +27,0% YoY. Sementara itu, pertumbuhan ekspor melambat dibandingkan Juni, dipengaruhi oleh penurunan ekspor minyak kelapa sawit, produk hilirisasi nikel, dan batu bara.

  • Inflasi Indonesia pada Agustus tercatat sebesar +0,21% MoM dan +3,19% YoY, meningkat dari +2,88% YoY pada Juli, terutama didorong oleh harga pangan seperti daging ayam ras dan beras. Sektor transportasi mencatat deflasi akibat penurunan tarif angkutan udara dan harga bahan bakar. Inflasi inti meningkat menjadi +2,92% YoY dari +2,76% pada Juli. Sementara itu, FAO Food Price Index global naik +1,9% MoM pada Agustus ke level tertinggi sejak akhir 2022, di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat gangguan pasokan di kawasan Laut Hitam, gelombang panas di Zona Euro, dan El Niño yang berkepanjangan.

Pandangan Kami:

Setelah data tenaga kerja AS tercatat lebih kuat dari ekspektasi, perhatian pasar kini beralih ke data inflasi AS minggu ini sebagai indikator utama terakhir sebelum pertemuan FOMC pada 16 September. Kami memperkirakan inflasi Agustus meningkat, sejalan dengan data PCE pada pekan sebelumnya. Saat ini, pasar rate futures memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga sekitar 65%.

Pasar obligasi dan saham Indonesia relatif stabil. Untuk IndoGB, kondisi saat ini cukup mendukung. Stabilitas Rupiah yang membaik dan biaya lindung nilai valuta asing yang lebih rendah dapat mempermudah masuknya kembali investor asing, sementara berkurangnya pasokan SRBI berpotensi mengalihkan likuiditas perbankan domestik dan investor institusi ke SBN. Kedua faktor tersebut dapat memberikan tekanan turun terhadap imbal hasil.

Di pasar saham, IHSG masih diperdagangkan pada valuasi yang relatif rendah dengan posisi investor asing yang masih terbatas, sehingga memberikan ruang terjadinya mean reversion. Perbaikan kondisi makroekonomi domestik berpotensi memberikan dampak yang lebih besar terhadap aliran dana maupun kinerja indeks.

RD MISB, RD MMUSD, RD IDAMAN, RD MIDU, RD MIDSYA, RD MGSED, RD MASED, MICB, MITRA, MITRAS, RD FTSE, ETF LQ45, ETF SRI Kehati, ETF Mandiri Emas Syariah. 

Simak pembahasan mendalam seputar pergerakan pasar pekan ini dalam laporan lengkap Weekly Market RecapBaca Selengkapnya

 


 

PRODUK 3M PERFORMANCE YTD PERFORMANCE
JCI +13.64% -23.25%
LQ45 +13.20% -22.32%
Saham
MITRA A +12.62% -13.72%
MICB A +12.12% -13.57%
ASEAN5 +9.79% -16.23%
MGSED -7.18% +11.20%
Index
FTSE ESG A  +13.16% -14.71%
ETF
XMLF +14.34% -18.62%
Campuran
MISB -6.62% -7.11%
MIA -8.93% -8.66%
Pendapatan Tetap
MIDU A -0.31% -0.57%
MIDO2 -1.80% -2.16%
IDAMAN A -3.03% -3.25%
Pasar Uang
MIPU A +2.05% +1.91%
MMUSD +1.82% +1.71%

*Data diatas adalah data per tanggal  4 September 2026


Info Lebih Lanjut

Hubungi Mandiri Investasi – (021) 526 3505
‌Email Mandiri Investasi – [email protected]
‌Mandiri Investasi – mandiri-investasi.co.id
‌‌


DISCLAIMER

‌Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana

Written by

Ikhlas Ikhlas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *