Ringkasan Pasar:
-
Global Equity: Pasar saham global ditutup menguat pada pekan yang lebih singkat akibat hari libur, dipimpin oleh penguatan Kospi dan Nikkei. Sentimen pasar didukung oleh tercapainya kesepakatan damai AS–Iran, meskipun hasil pertemuan FOMC pertama di bawah Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, menunjukkan sikap yang mengarah ke hawkish.
-
Domestic Equity: IHSG menguat sebesar +2,82% WoW, melampaui kinerja pasar ASEAN yang naik +1,94%. Penguatan didukung oleh investor domestik meskipun investor asing masih mencatat net outflow sebesar Rp1,3 triliun menjelang tinjauan MSCI.
-
Domestic Bond Market: Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia (IndoGB) tenor 10 tahun turun menjadi 7,08% (-34 bps WoW), sementara tenor 2 tahun turun menjadi 7,12% (-15 bps). Kenaikan BI-Rate dan pengetatan kebijakan sejak Mei turut mendukung stabilitas Rupiah. Nilai tukar USD/IDR tercatat sedikit melemah ke level 17.804.
Berita Utama Pekan Ini:
-
Perundingan AS–Iran berlanjut menuju kesepakatan permanen selama 60 hari di Swiss setelah gencatan senjata sementara tetap terjaga. Namun, ancaman Iran untuk kembali menutup Selat Hormuz serta konflik antara Israel dan Hezbollah masih menjadi faktor yang menjaga ketidakpastian. Meski demikian, pasokan minyak tetap berjalan normal sehingga mendukung proses disinflasi global dalam jangka pendek.
-
The Fed mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50%–3,75% dalam pertemuan pertama yang dipimpin Kevin Warsh. Meskipun demikian, pernyataan yang disampaikan bernada hawkish, dengan dot plot terbaru mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga pada 2026. Sementara itu, Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga acuannya ke level tertinggi sejak 1995 dan mengindikasikan masih adanya kenaikan suku bunga lanjutan.
-
MSCI mempertahankan status Indonesia sebagai pasar berkembang (emerging market), sehingga mengurangi kekhawatiran pasar terhadap potensi penurunan status menjadi pasar perbatasan (frontier market). Namun demikian, penilaian terhadap aspek information flow diturunkan menjadi negatif sebagai catatan terkait transparansi.
- Kenaikan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75% mempertegas komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas Rupiah serta menunjukkan pendekatan kebijakan yang proaktif untuk memperkuat kredibilitas kebijakan moneter.
Pandangan Kami:
Fokus pasar pekan depan akan tertuju pada keputusan MSCI Annual Market Classification untuk Indonesia pada 23–24 Juni, perkembangan lanjutan terkait penandatanganan kesepakatan AS–Iran, serta data inflasi Amerika Serikat yang akan menjadi penentu apakah proyeksi kenaikan suku bunga The Fed dapat terealisasi.
Keberlanjutan deeskalasi di Selat Hormuz dan arah pergerakan harga minyak juga tetap menjadi faktor penting yang memengaruhi prospek disinflasi global, arah suku bunga, serta sentimen risiko di pasar negara berkembang.
Pasar saham Indonesia masih diperdagangkan pada valuasi yang relatif rendah secara historis (IHSG -28,56% YTD) setelah tekanan outflow asing yang besar dan ketidakpastian terkait MSCI, sementara investor domestik menyerap sebagian besar tekanan jual tersebut. Meskipun arah pasar dalam jangka pendek masih bergantung pada hasil klasifikasi MSCI, pergerakan Rupiah, dan sentimen risiko global, valuasi saat ini menunjukkan adanya kesenjangan yang semakin lebar antara valuasi pasar dan ekspektasi pertumbuhan laba.
Kami tetap melihat penciptaan alpha terutama berasal dari alokasi sektor dan pemilihan saham yang selektif. Di pasar pendapatan tetap, sikap proaktif Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar serta prospek kembalinya aliran dana asing menjadikan strategi durasi semakin menarik bagi investor jangka menengah hingga panjang, meskipun volatilitas jangka pendek masih berpotensi berlanjut.
Rekomendasi:
RD MISB, RD MMUSD, RD IDAMAN, RD MIDU, RD MIDSYA, RD MGSED, RD MASED, RD FTSE, ETF LQ45, ETF SRI Kehati, MICB, MITRAS.
Simak pembahasan mendalam seputar pergerakan pasar pekan ini dalam laporan lengkap Weekly Market Recap: Baca Selengkapnya
| PRODUK | 3M PERFORMANCE | YTD PERFORMANCE |
|---|---|---|
| JCI | -13.08% | -28.56% |
| LQ45 | -15.64% | -28.02% |
| Saham | ||
| MITRA A | -10.77% | -19.46% |
| MICB A | -11.08% | -18.40% |
| ASEAN5 | -11.26% | -20.12% |
| MGSED | +18.92% | +19.91% |
| Indeks | ||
| FTSE ESG A | -7.91% | -20.29% |
| ETF | ||
| XMLF | -12.03% | -24.70% |
| Campuran | ||
| MISB | -11.39% | -11.85% |
| MIA | -14.10% | -13.85% |
| Pendapatan Tetap | ||
| MIDU A | -1.74% | -1.99% |
| MIDO2 | -3.09% | -3.45% |
| IDAMAN A | -1.47% | -1.68% |
| Pasar Uang | ||
| MIPU A | +1.16% | +1.02% |
| MMUSD | +1.27% | +1.16% |
*Data diatas adalah data per tanggal 19 Juni 2026
Info Lebih Lanjut
Hubungi Mandiri Investasi – (021) 526 3505
Email Mandiri Investasi – [email protected]
Mandiri Investasi – mandiri-investasi.co.id
DISCLAIMER
Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana
Written by




Tinggalkan Balasan